Tips Untuk Mempersiapkan Acara Pesta Pernikahan
Bagi kaum remaja yang akan mengakhiri masa lajangnya ke tingkat akhir alias ke tahap Pernikahan, tentunya hal ini sebelumnya di perlukan persiapan yang matang baik secara meteri maaupun secara emosional. Semakin dekat hari H, kadang membuat calon pengantin mudah dilanda stres. Emosinya lekas sekali naik jika ada orang yang mengingatkan tentang macam-macam persiapan. Apalagi kalau ada yang menambah usul ini itu. “Rasanya nggak ada habis-habisnya.
Stres yang melanda pada calon mempelai kebanyakan terjadi karena pengantin merasa mampu mengurusi sendiri semua persiapan acara pernikahan dan ingin semuanya menjadi prima. Di sisi lain, mereka masih belum punya pengalaman serta tak punya sistem kerja yang baik.
Berikut sejumlah tips sebagai pegangan dasar dalam mempersiapkan acara perkawinan :
Shopping Idea.
Mengurus pernikahan di Indonesia (Bali) apalagi yang musti berhubungan dengan adat istiadat Banjar mutlak perlu waktu dan tenaga ekstra. Untuk bisa mengantisipasi berbagai hambatan tersebut, perlu bantuan dari para sesepuh, keluarga dan pada mereka yang nantinya ikut dalam panitia penyelenggaraan pernikahan.
Perkawinan, seperti yang selalu diharapkan, hanya akan berlangsung sekali seumur hidup. Oleh karena itu tidak bisa main-main, persiapan harus matang sekali. Ada kebiasaan, untuk menyambutnya, biasanya para pengantin lantas memakai pakaian adat, mungkin agar tampak bisa lebih abadi.
Akan tetapi, kalau kawin dengan memakai pakaian serta upacara adat, perlu ditekankan, seluruh rangkaian upacara adat tersebut harus dikemas dengan baik dan diringkas agar tidak berubah menjadi berlarut-larut.
Maka sewaktu menyusun acara, kenyamanan tamu mutlak harus diperhatikan. Oleh karena itu, lay out tempat duduk, jarak untuk melihat rangkaian acara, sound system, pencahayaan serta penjelasan tentang seluruh rangkaian upacara adat, tidak boleh begitu saja ditinggalkan.
Harus diingat, upacara perkawinan bukan tontonan, mana ada orang rela anaknya kawin hanya sekadar jadi hiasan panggung? Oleh karena itu, para tamu juga jangan sampai merasa hadir di panggung tontonan, atau menyaksikan peragaan busana adat. Dengan demikian, penataan acara harus selektif.
Kiatnya, seluruh acara adat yang memang sudah mentradisi wajib dilestarikan. Namun, di mana perlu, harus bisa diring-kas, agar tidak berkepanjangan.”
Lebih bijaksana kalau calon pengantin memiliki catat-an tertulis sekitar rencana pernikahan. Calon pengantin juga perlu buku pegangan, agar mereka bisa mencatat semua gagasan pribadi yang mendadak muncul. Proses tersebut disebut dengan istilah shopping idea, dimulai sekitar tujuh bulan sebelum hari H tiba, agar perencanaannya lebih terkontrol.
Jangan bedakan tamu
Disarankan, seluruh rangkaian acara perkawinan sepenuhnya diserahkan kepada yang telah berpengalaman misalkan, pada Kepala angota keluarga besar, Kepala Adat atau jika perlu pada wedding organizer, agar bisa ditangani secara profesional.
Bahwa suatu acara perkawinan dikelola sendiri memang tidak ada yang melarang. Hanya saja, jika tetap dikelola sendiri, para calon pengantin perlu memiliki buku pegangan berikut sistem kerja yang cermat. Dilakukan perencanaan matang, pembagian kerja secara tepat, membuat check list, melakukan kontrol sesuai dengan tanggung jawab masing-masing, dibarengi doa, agar semuanya bisa berlangsung dengan sukses.
Tamu adalah raja, siapa pun mereka, apa pun pangkatnya. Oleh karena itu, jangan sekali-kali melakukan pembedaan. Ketentuan yang membagi antara tamu VIP, bahkan VVIP, dan tamu biasa, sangat tidak bijaksana. Termasuk membedakan ruang dan menu makan, mendahulukan pembesar dalam antrean tamu, menghentikan antrean karena pengantin akan membikin foto bersama pembesar, selebritis atau tokoh.
Sebagai tamu yang kita undang, kedudukan mereka sama, semua terhormat, tak harus ada yang boleh diistimewakan.
Salah satu yang seringkali dilupakan adalah, memahami kemampuan kita pribadi. Dalam pengertian, ibaratnya kalau mampunya hanya mengundang seratus tamu, jangan lantas menghadirkan seribu orang. Apalagi kalau lantas kursinya nggak cukup, makanan kurang, parkirnya kacau dan apa-apanya kurang. “Yang paling utama adalah, mampu tidak kita dalam meng-cover semua tamu. Meski tamunya berlimpah, tetapi kalau ketika pulang mereka semua menggerutu, pesta tersebut hanya akan menjadi bahan pergunjingan orang.

