Senin Feb 06

Muda Mudi

Med-medan, Tradisi Ciuman Masal Muda-Mudi di Sesetan

Omed Medan di SesetanSehari setelah Nyepi, identik dengan ritual omed-omedan (tarik-tarikan) di Sesetan, Denpasar. Ritual ini sangat menarik karena dibumbui dengan adegan ciuman massal antara wanita dan laki-laki yang diakhiri dengan siraman air.  Acara yang berlangsung meriah tersebut juga dihadiri para pejabat di lingkungan Pemkot Denpasar, Camat Denpasar Selatan I.B. Wiradana, S.Sos., tokoh masyarakat serta masyarakat Desa Pakraman Sesetan.

SHOOF ini merupakan rangkaian acara yang digelar oleh STT Satya Dharma Kerti dengan mengolaborasikan antara kegiatan seni budaya dengan peningkatan perekonomian masyarakat seperti pasar murah, food heritage, parade seni, bondres, parade band dan puncaknya berupa kegiatan tradisi omed-omedan.

Wali Kota Rai Mantra pada kesempatan tersebut mengatakan omed-omedan sebagai salah satu budaya dan tradisi serta merupakan warisan budaya yang dimiliki masyarakat Banjar Kaja Desa Pakraman Sesetan patut terus dikembangkan dan dilestarikan. Nilai-nilai yang diwariskan melalui kegiatan tersebut di antaranya rasa kebersamaan dan kegotong-royongan sebagai pemacu semangat dalam menjaga warisan budaya serta dalam mengisi pembangunan.

Ritual ini wajib diikuti oleh para muda-mudi Banjar Kaja, Sesetan, Denpasar yang digelar di jalan raya, Sesetan, Jumat (27/3/2009). 
Sekitar 200 muda-mudi warga banjar ini turut serta dalam ritual yang telah berlangsung ratusan tahun. Sebelumomed-medan, para peserta bersembahyang di areal Balai Banjar memohon ritual ini berjalan lancar. 

Sedangkan untuk mengantisipasi membludaknya ratusan penonton, ritual ini dijaga pecalang dan polisi.Tampak wisatawan asing berdesakan menyaksikan ritual unik ini. 
"Saya pernah menonton tapi tetap ingin menyaksikannya karena ini unik," ujar Stephanie, wisatawan Australia.
Ritual ini digelar dengan aturan, perserta pria berbaris di hadapan kelompok wanita. Begitu aba-aba dimulai, kedua kelompok ini merangsek ke depan. 

Puluhan anggota Sekaa Teruna Satya Dharma Kerthi Banjar Kaja Sesetan terlibat acara Med-medan. Sebelum Med-medan dimulai, anggota sekaa teruna melakukan persembahyangan bersama di sebuah pura yang satu areal dengan balai Banjar Kaja. Sebelum acara digelar, jalan aspal di depan balai banjar itu dibasahi dengan air. 

Acara diawali dengan pementasan tarian barong bangkal sekitar pukul 16.00, juga di lokasi Med-medan digelar. Ketika acara Med-medan dimulai, puluhan anggota sekaa teruna mengenakan pakaian kaos putih bertuliskan ''Med-medan Caka 1926'' dan bawahnya menggunakan kain, membagi diri dalam jumlah tertentu. Anggota sekaa teruna (laki-laki) berada di kiri (utara jalan) dan anggota sekaa teruni (perempuan) berada di kanan (selatan). 

Ketika aba-aba dimulai--ditandai dengan suara lepri-- masing-masing kelompok berlarian melintasi lokasi lawan jenis. Air PAM pun dikucurkan oleh anggota krama banjar ke tubuh mereka dengan menggunakan ember dan selang hingga basah. Dalam keadaan basah kuyup anggota laki-laki dan perempuan berupaya mengunggulkan salah satu anggotanya untuk dihadap-hadapkan dengan anggota lawan jenisnya. Tarik-tarikan pun terjadi. Anggota laki-laki memegang tubuh sang perempuan, sehingga terjadi saling omed (saling tarik-red). Kesan romantis juga tampak ketika pandangan mata saling beradu. Tepuk tangan penonton memberi semangat. Terlebih ketika dua lawan jenis sudah saling berhadap-hadapan, berpegangan dan lalu berpelukan. 

Disakralkan 

Med MedanMed-medan, menurut sumber setempat, berasal dari kata omed-omedan yang artinya saling tarik. Med-medan dulunya hanyalah sebuah kebiasaan, tetapi belakangan dijadikan tradisi yang sakral. 

Disebutkan, tradisi med-medan muncul bermula dari sembuhnya seorang tokoh puri setempat dari suatu penyakit. Kapan itu terjadi, tak disebutkan secara pasti. Oleh karena menderita sakit, tokoh puri itu tidak menginginkan adanya keramaian (med-medan) di hari raya Nyepi. Tetapi krama banjar memberanikan diri membuatnya dengan segala risiko. Mendengar adanya keramaian, tokoh yang sakit itu berusaha mendatanginya. Tetapi aneh, sakit yang dideritanya sembuh seketika setelah menyaksikan acara tersebut. Dari situ muncul upaya tetap melaksanakan tradisi tersebut pada hari raya Nyepi. 

Namun belakangan, tepatnya pada zaman Belanda, med-medan sempat dilarang. Kendati demikian tidak menyurutkan krama untuk tetap melanjutkan tradisi unik tersebut. Kegiatan pun lantas dilangsungkan secara sembunyi-sembunyi. Dulu, med-medan dilangsungkan pada hari raya Nyepi. Sejak tahun 1979 agar tidak mengganggu pelaksanaan catur brata penyepian, med-medan akhirnya dilaksanakan pada Ngembak Geni. 

Med-medan juga pernah ditiadakan. Tetapi peristiwa aneh pun terjadi. Sepasang babi yang tidak diketahui asal-muasalnya berkelahi di halaman Pura Banjar. Darah babi pun berceceran di mana-mana. Warga banjar yang melihat kejadian itu serta merta melerainya, tetapi tak berhasil. Akhirnya, ada bawos agar med-medan tetap dilangsungkan. Begitu tradisi itu dilangsungkan, kedua ekor babi itu menghilang tanpa jejak. Darah yang tadinya terlihat membasahi tanah, hilang seketika. Sejak itulah krama tidak berani lagi meniadakan med-medan sehingga lestari sampai sekarang. (lun/nagi)