Senin Feb 06

Sosial Budaya

Kejayaan Majapahit Muncul Kembali

Majapahit sepertinya tak henti mengisi halaman demi halaman sejarah negeri ini, bahkan setelah 794 tahun setelah Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja pertama dengan gelar Sri Kertarajasa Jayawardhana. Kali ini pemicunya adalah pembangunan Pusat Informasi Majapahit (PIM). Peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Jero Wacik, Menteri Pariwisata dan Kebudayaan pada tanggal 3 November 2008 dan dilanjutkan dengan dimulainya pekerjaan fisik pada 22 November 2008.

Bahkan dalam salah satu statemennya, Jero Wacik menyatakan bahwa proyek harus selesai sebelum pemilu dan akan diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Sungguh ironis.

Harian Kompas bahkan menurunkan liputan selama tujuh hari berturut-turut di halaman depan.Meskipun toh akhirnya PIM dihentikan dan direlokasi, namun peristiwa tersebut membuktikan bahwa kita masih “malas” belajar pada sejarah.

Salah satu kelemahan dalam proyek PIM adalah lemahnya sosialisasi masterplan Taman Majapahit ( Majapahit Park ) kepada masyarakat sekitar lokasi pembangunan. Bahkan sejumlah pematung batu dan perajin cor logam di Trowulan mengaku belum pernah melihat masterplan Taman Majapahit, sebuah proyek besar dengan menelan anggaran 25 milyar. Makin ironis bukan.

Fakta yang lain adalah lemahnya dokumentasi dan publikasi hasil proyek penelitian Majapahit sebelumnya. Salah satunya adalah buku ini, Rencana Induk Arkeologi Bekas Kota Kerajaan Majapahit Trowulan.

Buku setebal 202 halaman dengan ukuran kertas A 3 ini memuat laporan rinci tentang Rencana Induk Arkeologi Bekas Kota Kerajaan Majapahit Trowulan dimana Mundarjito terlibat sebagai Ketua Tim Penyusun Rencana Induk. Mundarjito (72 tahun) adalah Trowulan, demikian tulis Kompas, Minggu 11 Januari 2009 . Bahkan Mundarjito juga menyatakan bahwa Situs Majapahit adalah KTP kita (wawancara dengan Koran Tempo, Minggu, 11 Januari 2009 halaman A8).

Dalam kata pengantar di buku tersebut, Mundarjito menulis:

Pengumpulan data di lapangan beserta pengkajiannya telah dilakukan anggota tim dengan penuh kewaspadaan dalam suasana yang seringkali meresahkan, karena bersamaan dengan studi itu di Trowulan sedang berlangsung pula proses perusakan situs dan bangunan purbakala oleh sebagian penduduk yang sedang bergelut mengatasi pemenuhan hidupnya.

Dua puluh enam tahun kemudian, perusakan situs baik oleh pemerintah maupun penduduk masih berlangsung sampai hari ini. Dari data foto dan rekaman video yang dilakukan Muchsinun (Paidi Jolali) terlihat jelas bagaimana penduduk menggali sendiri dengan linggis di situs Klinterejo.

Sementara itu, seorang kawan pematung batu di Trowulan menyatakan bahwa penduduk masih enggan menyerahkan temuan peninggalan kepada BP3 Trowulan karena tak ada ganti rugi yang memadai.