| BHAGAVADGHITA 1. Yada – yada hi dharmasya glanir bhavati bharata abhyutthanam adharmasya, tadatmanam sryami aham (Bhagavadgita IV.8) Terjemahan : Manakala dharma hendak sirna, dan adharma hendak merajalela, saat itu, wahai keturunan bharata, Aku sendiri turun menjelma Ulasan : Bahwa di saat dharma sirna dan adharma mulai merajalela pada saat itulah keturunan Bharata akan turun menjelma ke dunia guna menyelamatkan kehidupan 2. Paritranaya sadhanam vinasaya ca duskrtam dharma sam sthapanarthaya sambhavami yuge-yuge (Bhagavadgita IV.8) Terjemahan : Demi untuk melindungi kebajikan, Untuk memusnahkan kelaliman, dan demi untuk menegakkan dharma Aku lahir ke dunia dari masa ke masa Ulasan : Bahwa Bratha turun ke dunia Untuk menumpas kejahatan dan Menegakkan dharma 3. Aprakaso pravrittis ca pramado moha eva ca, tamasy etami jayante vivriddhe kurunandana (Bhagavadgita XIV.13) Terjemahan : Kegelapan, kelesuan, kebodohan, dan kekacauan timbul apabila tamas yang tambah berkuasa, wahai kesayangan diantara keluarga kuru Ulasan : Bahwa jika ketidakseimbangan dunia terjadi, maka akan terjadi sifat tamas yang berkuasa Kecenderungan kedewataan adalah kecenderungan pada sifat-sifat yang baik 4. Idam adya maya labdham Imam prapsye manoratham, Imam asti dam api me Bhavisyati punar dhanam (Bhagavadgita XVI.13) Terjemahan : Hari ini aku dapatkan ini, keinginan ini harus kucapai ini punyaku dan kekayaanku itu juga aku menjadi milikmu nanti Ulasan : Suatu sifat-sifat keraksasaan yang menonjol dan memandang dirinyalah yang paling hebat 5. Anekacitta vibhranta Mohayala samavritah prasaktah kamabhogesu patanti narake sucau (Bhagavadgita XVI.16) Terjemahan : Bingung oleh berbagai pikiran, terlibat dalam jaringan keonaran, tersesat ke dalam kepuasan nafsu birahi mereka jatuh ke dalam neraka jahanam Ulasan : Bahwa bingung oleh berbagai pikiran, tersesat ke dalam kepuasan nafsu birahi, akan jatuh ke dalam neraka SLOKANTARA 1. Suwarnapuspam prthiwim bhunjanti catwaro narah Upayajnasca surasca krtawidyah priyamwadah Kalinganya ikang mwang sinangguh mamukti kembang Hemas ring lemah pat lwirnya, wruh magawe upaya Wruh ring upaya ring satru, yeka upayajna ngaranya Wani ring samara, tan hana pada nira, yeka Sura ngaranya, wicaksana ring aji sastragama Tan hana kapunggung ira ring satwa tattwa, yeka Krta-widya ngranya, bagu stri-ratna, pada waged Aniwi sang maha purusa priya, irika ta sang Amawa wruh ring ananggasastra, kinalututan ing stri, Yeka priyam wada ngaranya, yan hana mangkana Kadadi ring wwang pradhana magulahaken punyadharma, Pilih dadi ning wwang gumego tapabrata ling ning sastra (Sloka 10 (38)) Artinya : Empat golongan manusia yang menikmati kebahagiaan hidup ini yaitu, orang yang tahu tujuan dan cara hidup, orang yang pemberani, orang yang bijaksana dan orang yang pandai berbicara ramah dan menarik Ulasan : Orang yang bisa dan dapat berbahagia di dunia ini sebagai pemimpin ialah orang yang mempunyai budi luhur, cerdas, penyayang, penolong, bijaksana, pemberani dan saling menghargai dan mencintai sesama 2. Anandanam kanistam ca dhana danam ca madhya mam, uttamam kanyadanam ca widya da namanan takam Ikang awah sekul, kanisthadana ngaranya; ikang wwang adana masing-masing manik, madhyama-dana ngaranya, muwah ikang wwang aweh kanya, uttamadana ngaranya. Muwah ikang wwang amanah marahi dharma aji sastragama, manuduhaken hala hayu ring ulah, anantadana ngaranya, tan pahingan phala nika, ling sang hyang agamawidhi (Sloka 21 (67)) Artinya : Pemberian berupa makanan itu mutunya kecil, pemberian berupa uang mutunya menengah dan pemberian berupa gadis itulah yang dianggap tertinggi. Tetapi disamping itu pemberian berupa ilmu pengetahuan itu mengatasi semuanya dan membawakan kebajikan besar. Ulasan : Pemberian nasi, gadis dan uang itu dianggap pemberian tertinggi tetapi jika ada orang yang memberikan pelajaran dharma dan intisari kitab-kitab suci, itulah yang dianggap pemberian yang tak terbatas dan paling tinggi 3. Lala nad bahawa desastradanad bahawo gunah tasmat putresu sisyasu tadanam na tu lalanam kalinganya ikang putra yan lalana, tuhun ika tan piniheran tan warung mamangguh dosa, kunang ikang putra yan tinadana, tuhun ika yan sinakihan ing warah-warah tan wurung ika memangguh guna, matangyan ikang putra mwang sisya ta dana nika, maran agony gunanya, haywa wineh lalana ling ning aji (Sloka 23 (49)) Artinya : Banyak ketidakbaikan dan banyak pula kebaikan-kebaikan memarahi anak. Jadi yang perlu dilakukan terhadap anak atau murid, ialah hukuman dimana perlu dan bukan kemanjaan Ulasan : Bahwa membesarkan anak tidak perlu selalu dimanjakan, karena hal itu akan menyebabkan anak tidak bisa mandiri dan tidak mempunyai kemajuan dalam melakukan sesuatu. Jadi kemanjaan pada anak sangat tidak baik untuk dilakukan 4. Ekorasasamutpanna eka nafsatrakan wittah na bhawanti sama cara yatha badara kantakah kali nganya, ikang anak ngaran ika, yadyan pareng ametu sangkeng garbhawasa tuwi, tunggala ngaran ika, de sang bapa mwang ibu, pada ta rakwa sadara ika kabeh, pada dinanya mwang naksatranyan duk metu, tathapinya tan pada buddhi nika salah-siki, kadyangga ring rwi nikang badara sawit, hana bener, hana n wilut ya ta pada ning buddhi nikang wwang pinak anak ling sang hyang aji (Sloka 27 (53)) Artinya : Lahir dari perut ibu yang sama dan di waktu yang sama, tetapi kelakuannya tidak akan sama. Manusia satu berlainan dengan manusia lainnya, sebagai berbedanya dari belatung yang satu dengan lainnya Ulasan : Manusia dilahirkan oleh ibu, tetapi perilaku sifat dan kejiwaannya sangat berbeda antara satu dan lainnya, perbedaan itu juga dipengaruhi oleh pergaulan sehari-hari dan dipengaruhi juga dengan karmaphala 5. Wanigranistu banda krad wanijah pada jatayah krayawikrayakaryatha suddhrestu wanijyak riyah Kalinganya, karya sang sudra, adagang alayar madwal-aweli, kawrdhyan ing artha donya banyajakriya, yeka sudra-sasana ling sang hyang aji Kunang ikang antyajati ngaranya, wwalu wilang nika, sor jatyanyeng tan ling sang hyang satra (Sloka 63 (28)) Artinya : Seorang sudra adalah membuat barang pecah belah dan berdagang. Ia melakukan pembelian dan penjualan, bekerja di bidang jual beli Ulasan : Kewajiban golongan sudra adalah menumpuk kekayaan, hal itu dilakukan melalui perdagangan pembelian, dan mengadakan perdagangan berkeliling di seluruh nusantara dan bekerja di lapangan perdagangan SARASAMUCCAYA 1. Duragem bahudhāgāmi prathanasam sayatmakam manah suniyatam yasya sukhì pretya veha ca Niham ta krama nikang manah, bhanānta lungha svabhawanya, akweh mangēn-angēnya, adi prāthana, dadi sangsaya, pinākawaknya, hana pwa wwang ikang wēnang humeret manah, sira tika manggeh amanggih sukha, mangke ring paraloka waneh (Sarasamuccaya 81) Terjemahannya : Keadaan pikiran itu demikianlah tidak berketentuan jalannya, banyak yang dicita-citakannya, terkadang penuh kesangsian, demikianlah kenyataannya; jika ada orang dapat mengendalikan pikirannya pasti orang itu beroleh kebahagiaan, baik sekarang maupun di dunia yang lain Ulasan : Pikiran itu tidaklah bersifat multak, suatu cita-cita akan dihadang penuh rintangan, namun dengan pengendalian dirilah yang akan membawa manusia ke jalan kebahagiaan, di dunia maupun di akhirat 2. Manusah sarva bhutesa varttate vai subha subhe asubesu samavistam subhesvevakarayet Ri sakweh ning sarwa bhuta, iking yanma wwang yuga wenang gumawayaken ikang subha subha karma, kuneng panenta sakena ring subha karma yuga ikang subha karma, phala ning dadi wwang. (Sarasamuccaya 2) Terjemahan : Diantara semua makhluk hidup hanya yang dilahirkan menjadi manusia sajalah yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk, leburlah ke dalam perbuatan baik, segala perbuatan buruk itu, demikian gunanya menjadi manusia. Ulasan : Bahwa diantara makhluk, hanya manusia sajalah yang dapat melaksanakan perbuatan baik/buruk, dan diantara baik dan buruk hanya manusialah yang bertugas memilahnya 3. Iyam hi yonih prathama yam prapya yogatipate atmanam sakyate tratum karmabhin subhala ksanaih Apan iking dadi wwang uttama jaga ya, nimitaning mangkana, wenang ya tumulung awaknya sangkeng sang sora makasadhanang, subha karma hinga ning kottamaning dadi wwang ika (Sarasamuccaya 4) Terjemahannya : Menjelma menjadi manusia adalah sungguh-sungguh utama, sebabnya demikian, karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan sengsara, dengan jalan berbuat baik. Demikianlah keuntungannya menjelma menjadi manusia Ulasan : Bahwa manusia adalah makhluk utama, karena ia dapat menolong dirinya dari sengsara, dan itulah keuntungannya lahir sebagai manusia 4. Manasa niscayam krtva tato vaca – vidhiyati kriyate karmana pascat pradhanam vai manasatah Kunang sangksepanya, manah nimittaning niscaya jnana, lumekas tan nyar, lumekas tan mapawrtti, matangnyam manah ngaranika pradhanam mangkana (Sarasamuccaya 79) Terjemahannya : Maka kesimpulannya, pikirkanlah yang merupakan unsur yang menentukan. Jika penentuan perasaan hati telah terjadi, maka mulailah orang berkata atau mulai berbuat. Oleh karena itu pikirkanlah yang menjadi pokok sumbernya. Ulasan : Bahwa pikiran itu menjadi unsur penentu, bila penentu hati terjadi, maka orang akan mulai berbuat dan pikirkanlah yang menjadi sumbernya. 5. Pratyaham pratyavekseta hyat manp vrtamatmana, kinnume pasubhistulyam kinnu sat purusaih saman Maang nyan haywa tan pawiweka, awakta tapa umangen-angena ulah nyewakta sari linganta, salah kariki ulahta, yukti karika, pada lawa pasu kariki tan mangke, pada sang pandita kunang, demiki prawrttinta, mangkana linganta sari yatna tutura ri prawrttinta. (Sarasamuccaya 315) Terjemahannya : Oleh karena itu jangan hendaknya tanpa pertimbangan, hendaknya ada memikirkan perbuatan diri anda sehari-hari, pikir anda : “Apakah salah perbuatan ini atau benarkah ? sama dengan hewankah atau sama dengan sang panditakah tingkah lakuku ? demikian hendaknya pikiran anda dari hari ke hari dan anda senantiasa menasehati diri mengenai perbuatan anda itu Ulasan : Bahwa dalam perbuatan sehari-hari, berbuatlah dengan rasa penuh pertimbangan, dan belajarlah anda manusia untuk mengintrospeksi diri |