Senin Feb 06
21.04.2009 19:22:50
Hidup ini Seperti Bermain Layang-layang

Layang-layangBeni (nama samaran), salah satu remaja yang gemar  bermain layang-layang. Paling tidak itulah yang sering dilakukannya. Bagi Ben, bermain layang-layang adalah kehidupannya. Kadang dia harus memainkannya untuk aduan. Di kesempatan yang lain, Ben bisa bermain hanya untuk membuatnya tersenyum. Apapun tujuannya, satu prinsip utama yang Ben pelajari untuk bermain layang-layang dengan baik adalah prinsip tarik ulur.


Bagi ben, bermain layang-layang tidak sekadar menaikkan layang-layang ke angkasa. Ben mempersiapkan semuanya dari bawah. Ben memilih untuk meracik benangnya sendiri. Begitu juga kerangka dan tubuh layang-layangnya. Dia tidak ingin hanya membelinya begitu saja di toko. Dia ingin layang-layang itu begitu indah karena dibuat dari tetes jiwanya sendiri.

Sebuah benang biasa dibelinya di toko, kemudian dia meramu pecahan kaca yang digerus halus, tepung kanji dan air untuk memperkuat benang itu. Harus. Ini harus dilakukan. Jika tidak, layang-layangnya hanya sekadar layang-layang, bukan buah jiwanya.

Dicelupkannya benang itu di ramuan untuk beberapa lama. Lalu dia mengikat benang itu di satu pohon belakang rumahnya, menarik benang dalam celupan dan merentangkannya memutari pohon di ujung yang lain. membiarkan benang itu kering dan siap digulung.

Setelah itu Ben mulai merakit layangannya. Mengasah bambu, membentangkan kertas putih. Ben merakit dengan teliti. Ben memilih kertas putih polos saja, karena Ben suka sucinya putih. bersihnya putih dan terangnya putih. Lalu siaplah layang-layang itu.

Ben mulai menerbangkan layang-layang. Awalnya dia mencoba untuk menerbangkannya sendirian. Namun ternyata tingkat kesulitannya lebih tinggi ketimbang menerbangkannya berdua. Jika kebetulan ada kawan di sampingnya, Ben meminta bantuan sang kawan untuk memegang layang-layang, lalu ia mengulur benang hingga jarak yang dia rasa cukup. Jika tidak, terpaksa ia lontarkan layang-layang ke udara sembari menunggu angin yang tepat.

Menurut Ben, yang paling susah dalam bermain layang-layang adalah membuatnya tetap membumbung tinggi di angkasa. Kondisi ini membuatnya harus pandai-pandai mengatur diri dan emosinya agar layang-layang tetap jumawa di atas sana. Dan Ben telah belajar, belajar dari pengalamannya bertahun-tahun sebagai pelayang.

Ya, tarik dan ulur. ketika angin kencang datang berhembus. Ben menarik dan mempertahankan layang-layang agar tidak putus terbawa angin. Meskipun ben percaya benang racikannya akan mampu menjaganya. tapi layang-layang itu jauh di atas sana. Bertempur dengan angin. Ben harus membantunya untuk tetap bertahan. Ben membutuhkan konsentrasi penuh dalam hal ini. Ditarik sedikit. Disentak. Dengan lembut memanjangkan benangnya. Ben menggenggam erat benangnya agar tak terlepas dari tangannya.

Lalu ada saatnya Ben melepaskan erat genggamannya pada benang itu. Angin sepoi bertiup. Ben tahu dia harus melonggarkan genggaman, agar layangan tetap terbang dengan nyaman. Tapi bukan berarti dia melepaskannya.

Sesaat setelah melonggarkan benang dalam genggamannya, Ben tersenyum sembari mengamati layangannya dari jauh. Saat mengulur adalah saat berjarak namun tetap berusaha menjaga koordinasi. Antara Ben dengan layangannya.

Ben tahu, mengulur adalah sama pentingnya dengan menarik. Menarik sekuat tenaga dengan memaksa berarti melukai jari-jarinya sendiri dan justru membuat layangan tersedak. Dengan mengulurnya, Ben memberikan keleluasan bagi layang-layang bermain dengan angin. Memberikan ruang bagi layangannya untuk bergerak. Dan ben bisa memandanginya di atas sana. Itulah pentingnya bermain layang-layang. Mesti dengan tepat mengetahui kapan harus menarik dan kapan harus mengulur.

Begitu juga dengan hidup bukan? Kita harus tahu kapan harus menarik dan kapan harus mengulur. Dan jangan pernah berhenti berharap…

Hidup itu seperti bermain layang-layang…..


Kata Kunci: