STT BALI Online
Para Remaja Bali, Ngiring Ajegan Baline
Istilah “ajeg” merujuk kepada pengertian stabil , tetap, dan konstan Satu hal yang tetap dalam kebudayaan adalah perubahannya.Bali yang kini dikenal sebagai satu destinasi pariwisata terbaik dunia, sesungguhnya sejak zaman prasejarah telah bersentuhan dengan budaya global. Demikian pula ketika Bali dan sekaligus kepulauan Nusantara mendapatkan sentuhan Agama Hindu dan budaya India, yang mengantarkan bangsa Indonesia menuju alam sejarah, dengan dikenalnya tulisan-tulisan baik berupa huruf Pallawa maupun Devanagari berbahasa Sanskerta. Akibat sentuhan Agama Hindu dan budaya India, di samping budaya China tersebut, akar-akar budaya Bali menjadi subur dan menumbuhkan budaya Bali yang kita kenal dewasa ini.
Keberagaman bagi masyarakat Bali merupakan realitas empirik, kenyataan yang harus dan patut diterima serta disyukuri, karena sesungguhnya tidak ada suatu masyarakat yang homogen dalam arti dalam hubungan antar etnis di bumi Nusantara ini. Di Bali masyarakat multietnis dan multikultural merupakan kenyataan dan untuk itu diperlukan pembelajaran atau kajian terhadap realitas empirik tersebut.
Ajeg Bali meliputi berbagai hal di Bali, mulai dari sitem religi, ekonomi, seni-budaya, niaga, politik, lingkungan, politik, pendidikan, tata ruang, kependudukan, kesehatan, pendidikan, pariwisata, dan hal-hal lain yang menyangkut cara hidup masyarakat. Dalam sistem persubakan, misalnya, dilakukan “sterilisasi” wilayah subak dari pembangunan perumahan untuk melestarikan kondisi ekologis sekitar subak. Sosialisasi budaya Bali, seperti membuat janur, ditanamkan semenjak kanak-kanak dan merupakan bentuk ajeg Bali. Hal ini saya temukan ketika melihat perlombaan membuat prasarana ibadah bagi anak-anak SD dan SMP di Tanah Lot. Yang membuat saya tercengang, pertama kali saya kenal konsep ajeg Bali dari artikel “Identitas Dalam Semangkuk Bakso” dalam majalah Playboy Indonesia edisi Juni 2006. Jika kita pahami, artikel tersebut bercerita soal resistensi orang Bali terhadap penguasaan orang Jawa terhadap perekonomian di Bali, ya..dengan berjualan bakso babi… Bahkan tersurat kalimat “Tujuannya untuk menjaga identitas, ruang, serta proses budaya Bali… Kesadaran itu penting karena Bali yang identik dengan keindahan, kenyamanan, dan keharmonisan sudah mulai terusik… Tanah Bali yang merupakan bagaian dari tanah adat makin abnyak berpindah tangan…”. Jumlah pendatang (terutama dari Jawa) semakin menjadi ancaman, peluang kerja orang Jawa cukup banyak – sementara masyarakat Bali sibuk dengan banyaknya upacara, orang Jawa mengambil alih waktu-waktu tersebut di sektor ekonomi.
Ajeg Bali terinspirasi oleh nilai-nilai yang dianut dalam agama Hindu, yang diwujudkan dalam ajaran “Tri Hita Karana” yang berarti tiga penyebab kebahagiaan atau kemakmuran. Ketiga konsep tersebut dalah Parahyangan(hubungan manusia dengan Tuhan), Pawongan (hubungan manusia dengan sesama manusia), dan Palemahan (hubungan manusia dengan alam) (diambil dari makalah “Tri Hita Karana”, Dewa Nyoman Suardana, S.Ag, dalam seminar di Puri Agung Singaraja 21 Juni 2007). Dalam pelaksanaannya konsep Ajeg Bali dimaknai dalam tiga tataran, yaitu dalam tataran individu ; ajeg Bali dimaknai sebagai kemampuan manusia Bali untuk memiliki keprcayaan diri kultural (cultural confidence) yang bersiat kreatif dan tidak membatasi diri pada hal-hal fisikal semata. Kedua, dalam tataran lingkungan kultural ; ajeg Bali dimaknai sebagai sebuah ruang hidup budaya Bali yang bersifat inklusif, multikultur, dan selektif terhadap pengaru-pengaruh luar. Terakhir, dalam tataran proses kultural; ajeg bali merupakan interaksi manusia dengan ruang hidup buadayanya guna melahirkan produk-produk atau penanda-penanda budaya baru melalui sebuah proses yang berdasarkan nilai-nilai moderat (tidak terjebak pada romantisme masa lalu maupun godaan dunia modern), non-dikotomis, berbasis pada nilai-nilai kultural, dan kearifan lokal, serta memiliki kesadaran ruang (spasial) dan waktu yang mendalam. Dalam ketiga tataran tersebut, disepakati bahwa ajeg Bali bukanlah sebauah konsep yang stagnan, melainkan upaya pembaruan terus-menerus yang dilakukan secara sadar oleh manusia Bali untuk menjaga identitas, ruang, serta proses budayanya agar tidak jatuh di bawah penaklukan hegemoni budaya global (diambil dari kumpulan artikel 55 tahun Bali Post, 2004).
Jadi, apakah ajeg Bali merupakan sebuah cita-cita belaka? Kalau kita berpikir sederhana, selama ada canang (sesajen dari janur kelapa berisi bunga dan dupa), nilai-nilai agama hindu yang merupakan core of the culture, akan tetap bernafas tenang dalam kehidupan manusia Bali.
